+62 815-5440-0434
ppmambaulmaarif@gmail.com
Jln. KH. Bisri Syansuri No.77, Denanyar, Jombang

PROFIL SINGKAT PENDIRI PONDOK PESANTREN MAMBA’UL MA’ARIF KH. BISRI SYANSURI PECINTA FIQIH SEPANJANG HAYAT

Bayi yang dilahirkan Mariah, istri Syansuri, 28 Dzulhijjah 1304 H (sekira 18 September 1886) di desa Tayu diberi nama Bisri. Anak pertama mereka bernama Mas'ud, seorang anak lelaki sesuai dengan harapan keluarga di daerah itu pada umumnya. Yang kedua adalah seorang anak perempuan, bernama Sumiyati. Bisri adalah anak ketiga, dan setelah itu masih ada lagi dua anak lain dilahirkan dalam keluarga ini, yaitu Muhdi dan Syafa'atun. Mereka dilahirkan di Tayu, desa asal Syansuri, sebuah ibukota kecamatan yang terletak lebih kurang 100 kilometer arah timur laut Semarang, dalam kawasan pesisir pantai utara Jawa yang memiliki budaya sosial keagamaannya sendiri. Sebagai salah satu titik dalam jalur daerah yang penduduknya teguh memegang tradisi keagamaan mereka, yang membentang dari Demak di timur Semarang hingga Gresik di barat laut Surabaya, Tayu merupakan latar belakang geografis yang sangat mewarnai pandangan hidup Bisri di kemudian hari, dan sedikit banyak turut membentuk kepribadiannya. dan sedikit banyak turut membentuk kepribadiannya. Beliau memang lahir dalam tradisi keagamaan yang kuat dari keturunan yang memiliki ulama bermutu tinggi, di pihak ibunya yang dilahirkan dari keluarga besar di Lasem. Keluarga ibunya adalah keluarga yang menurunkan beberapa ulama besar dalam berbagai generasi, seperti almarhum K. H. Kholil Lasem dan almarhum K. H. Baidlowi Lasem. Hingga saat ini pun masih merupakan suatu pesantren induk bagi banyak pesantren lainnya, dan tidak heran jika tradisi yang demikian kuat kaitannya dengan penguasaan ilmu agama Islam secara mendalam itu akan tumbuh seorang agamawan yang kemudian akan menjadi salah seorang ulama besar yang memberikan bekas tersendiri terhadap sejarah bangsa dan negara.

A. Mulai Belajar Al Qur’an
Pada usia tujuh tahun Bisri mulai belajar agama secara teratur, yaitu dengan belajar membaca Alquran dengan aturan bacaan (tajwid) yang benar pada Kiai Shaleh di desa Tayu juga. Tradisi membaca Al¬quran seperti ini adalah tradisi yang sudah berumur ratusan tahun di kawasan Nusantara. Pada gilirannya, ia bersumber pada tradisi 1400 tahun yang diwariskan oleh Rasulullah Muhammad Sallallahu 'alaihi wasallam, sebagai landasan utama pemeliharaan ajaran agama dari penyelewengan isi dan pengertian, sebagaimana terjadi pada agama-agama lain. Alquran adalah inti dari pembuktian kebenaran ajaran yang dibawa Muhammad, karena itu ia harus dipelihara sebaik-baiknya, dari cara membacanya hingga cara memahaminya serta penerapan pemahaman itu pada kenyataan hidup. Pendidikan menguasai bacaan Alquran dengan sempurna itu, yang dikemudian hari akan menjadi salah satu perhatian khusus Bisri dalam mendidik para santrinya, ditempuhnya hingga usia sembilan tahun. Pada usia itu ia belajar pada salah seorang keluarga dekatnya yang menjadi ulama terkenal dan membuka pesantren sendiri di desa kajen, sekitar 8 kilometer dari Tayu. Gurunya adalah Kiai Abdul Salam yang hafal Alquran dan terkenal dengan penguasaannya yang mendalam atas fiqh. Di bawah ulama ini Bisri mempelajari dasar-dasar tata bahasa Arab, fiqh dan tafsir Alquran (seringkali disingkat 'tafsir' saja) serta kumpulan hadits Nabi yang berukuran kecil dan sedang. Kiai Abdul Salam menerapkan pola kehidupan beragama yang sangat keras aturan-aturannya dan berjalur tunggal moralitas/akhlaqnya. Tidak heranlah jika di kemudian hari sifat berpegang pada aturan agama secara tuntas menjadi salah satu tanda pengenal kepribadian Bisri yang khas. Gemblengan yang diterimanya dari Kiai Abdul Salam di masa mulai menginjak masa remaja ternyata sangat membekas, dan sangat menentukan corak kepribadian yang berkembang dalam dirinya di kemudian hari.

B. Nyantri pada kiai Kholil
Pada usia 15 tahun Bisri berpindah pesantren lagi, belajar pada kiai Khalil di Demangan, Bangkalan, ulama besar yang menjadi guru dari hampir semua kiai yang terpandang di seluruh Jawa waktu itu. terkenal sebagai 'waliullah' yang memiliki keistimewaan serba ragam yang bersifat supernatural, Kiai Khalil menyimpan di balik wajah kewalian'nya itu penguasaan sangat dalam atas ilmu-ilmu agama yang diterima di kalangan kaum muslimin waktu itu, sebuah kombinasi yang sangat jarang tercapai sepanjang sejarah ulama muslimin. Kiai Khalil adalah perwujudan dari sebuah proses yang telah berlangsung lebih setengah abad lamanya. Proses itu adalah munculnya ulama-ulama terkenal di kalangan 'santri Jawi' yang berasal dari kawasan Asia Tenggra sejak pertengahan abad kesembilan belas di Mekkah. Sebenarnya, sebelum itu ia pernah juga belajar pada Kiai Syu'aib Sarang dan Kiai Khalil Kasingan (kedua-duanya di daerah Rembang), dua orang ulama terkemuka di pesisir utara pada waktu itu. Kemungkinan pendidikan di bawah kedua ulama itu ditempuhnya untuk jarak waktu singkat di masing-masing tempat, dan bisa jadi hal itu dilakukan dalam bulan Puasa. Pada bulan tersebut pesantren menyediakan program pengajian khusus untuk jarak waktu sebulan saja, di-gunakan untuk keperluan menyegarkan kembali orientasi para alumni terhadap perkembangan dalam memahami teks-teks utama dalam literatur keagamaan lama. Pesantren-pesantren utama pada masa seperti itu menjadi ramai dengan kehadiran para alumni yang sudah menjadi ulama di tempat masing-masing, untuk mengikuti program penyegaran kembali itu. Didasarkan pada tradisi 'santri keliling' {wandering santris) yang merupakan corak khas kehidupan pesantren, dengan para santri berpindah-pindah pesantren dalam frequensi cukup tinggi guna mengejar spesialisasi, program khusus pengajian bulan Puasa itu merupakan bagian sangat penting dari pembentukan tata nilai universal di kalangan ulama pesantren. Tradisi 'santri keliling' tersebut, yang melandasi pengajian Puasa itu, pada dirinya dilandaskan pada sistim pewarisan pengetahuan berdasarkan sistim magang menjadi kiai, yang dikenal dengan nama sistim ijazah. Bentuknya yang paling sering dipakai adalah pemberian perkenan secara lisan kepada seorang santri untuk mengajarkan teks tertentu, setelah kiainya puas dengan kemampuan dan penguasaan santri yang bersangkutan atas teks tersebut. Sistim pemberian perkenan yang dikenal dengan nama sistim ijazah itu, pada asalnya berkaitan sangat erat dengan konsep barakah (berkat, grace) yang merupakan pelanjutan doktrin emanasi [faidh) ilmu ketuhanan kepada diri manusia melalui medium nabi, wali, orang alim dan seterusnya.

C. Nyantri di Tebuireng
Tradisi menjadi 'santri keliling' itu dilanjutkan oleh Bisri dengan kepergiannya menuntut ilmu-ilmu agama di pesantren Tebuireng (Jombang), di bawah asuhan Kiai Hasyim Asy'ari, pada tahun 1906. Mungkin atas ajakan kawan baru yang ditemuinya di Bangkalan, Abdul Wahab Hasbullah, mungkin juga karena memang tertarik oleh reputasi kiai Tebuireng itu. Kiai Hasyim Asy'ari begitu disegani orang karena kedalaman ilmu-ilmu agamanya, dan karena itu mendapat gelar Hadra-tus Syaikh. Tindakan untuk berpindah tempat pendidikan ke pesantren Tebuireng ternyata penting sekali artinya bagi kelanjutan hidup pemuda Bisri Syansuri. Ia lalu menjadi bagian dari apa yang oleh Zamakhsyari Dhofier dalam disertasinya disebut sebagai garis silsilah intelektual para ulama (intelectual genealogy of the kiai), yaitu proses penurunan ilmu pengetahuan agama secara mendalam dari generasi ke generasi, melalui proses penularan yang ketat, disandarkan sepenuhnya kepada sistim ijazah seperti telah diuraikan. Kiai Hasyim Asy'ari semula adalah murid Kiai Khalil Bangkalan, Kiai Zainuddin Mojosari di Nganjuk dan Kiai Khazin dari Siwalan Panji (Sidoarjo). Kemudian ia belajar di Mekkah, menurut jalur yang digambarkan van der Kolff, dan di sana ia belajar pada syaikhul masyaikh Kiai Nawawi Banten, Kiai Ahmad Khatib Padang, Kiai Mahfudz Termas (Pacitan), dan sejumlah guru 'non Jawi' seperti Syaikh Syatha dan Syaikh Daghistani. Kiai Hasyim dengan cepat menanjak reputasinya sebagai penuntut ilmu yang sangat cerdas dan mamptt menguasai ilmu-ilmu agama secara mendalam dengan cepat. Bahkan segera setelah kepulangannya ke tanah air, di mana ia semula mendirikan pesantren di Kediri dan kemudian berpindah ke Jombang, segera ia menjadi ulama yang disegani dan ditunduki para ulama iainnya, termasuk bekas guru-gurunya semasa ia belum berangkat ke Mekkah dahulu. Sebagai ulama yang memiliki spesialisasi di bidang ilmu-ilmu hadits, Kiai Hasyim Asy'ari terkenal sebagai ulama yang mampu melakukan penyaringan ketat terhadap sekian banyak tradisi keagamaan yang dianggapnya tidak memiliki dasar-dasar dalam hadits. Dan ia bersikap sangat teliti dalam mengamati perkembangan tradisi ketarekatan di pulau Jawa, yang memang telah mengembangkan cara-cara yang dinilainya menyimpang dari kebenaran ajaran Islam. Pemuda Bisri Syansuri tinggal di pesantren Tebuireng enam tahun lamanya. Hubungannya semakin bertambah karib dengan pemuda yang dua tahun lebih tua, Abdul Wahab Hasbullah, yang telah menemaninya semenjak masih bersama-sama di pesantren Kiai Khalil Bangkalan. Abdul Wahab masih keluarga dekat dari Kiai Hasyim Asy'ari, karena ia adalah adik sepupu sang guru. Kedua orang tua mereka masih bersaudara, karena sama-sama berasal dari desa Gedang, dua kilometer di utara kota Jombang. Kedua-duanya juga masih memiliki garis keturunan keluarga yang panjang, hingga ke tokoh legendaris Jaka Tingkir di Salatiga, Jawa Tengah. Dari keluarganya sendiri, Abdul Wahab memiliki garis keturunan itu melalui sejumlah pemimpin gerakan keagamaan di Nganjuk. Dari jurusan ayahnya, Kiai Hasyim memiliki garis keturunan lebih pendek dan langsung, karena ayahnya, Kiai Asy'ari, adalah putera Kiai Abdul Wahid dari desa Tingkir itu sendiri, dari istri yang berasal dari Demak. Itulah sebabnya, di kemudian hari Kiai Hasyim Asy'ari menamai anak lelakinya yang pertama dengan nama Abdul Wahid Hasyim. Desa Gedang, tempat Kiai Hasyim dilahirkan, adalah pusat gerakan Tarekat Naqsyabandi di Jombang (dan mungkin Jawa Timur) pada waktu kakeknya memimpin pesantren di tempat itu. Sang kakek, Kiai Usman, adalah urut-urutan terkemuka dari guru-guru tarekat di Jawa Timur di pertengahan abad ke sembilan belas. Ia mengambil menantu salah seorang muridnya, yaitu pemuda Asy'ari asal Demak, putera Kiai Abdul Wahid Tingkir. Sesuai dengan tradisi pewarisan ilmu pengetahuan agama dan kepemimpinan pesantren yang dalam jangka panjang ternyata merupakan salah satu tiang utama penyangga kelangsungan hidup pesantren sebagai lembaga keagamaan. Didasarkan pada pengamatan seksama atas potensi ilmiah keagamaan murid-murid dan kemuliaan garis keturunannya (dipandangan keagamaan waktu itu), pola mengambil calon-calon kiai sebagai menantu adalah jaminan bagi kelangsungan tradisi pesantren itu sendiri. Demikianlah yang terjadi atas diri pemuda Asy'ari, yang segera pindah ke tempat pemukiman baru di desa Keras (6 kilometer arah selatan kota Jombang) setelah mengawini Winih, anak Kiai Usman Gedang, Di tempat baru itu, ia mengembangkan sebuah pesantren, yang kemudian secara tradi-sional menarik santri-santri dari tempat asal gurunya, Demak. Kiai Asy'ari melanjutkan tradisi mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada santri-santrinya dan kepada masyarakat di sekitarnya, 'termasuk mengembangkan tradisi tarekat yang diterimanya dari sang mertua.

D. Barisan pecinta fiqih
Di pesantren Tebuireng, pemuda Bisri juga belajar bersama sejumlah pemuda pilihan yang di kemudian hari akan menjunjung nama guru mereka, seperti pemuda Abdul Manaf dari Kediri, As'ad dari situbondo, Ahmad Baidhawi dari Banyumas, Abdul Karim dari Sedayu resik), Nahrawi dari Malang, Abbas dari Jember, Ma'sum Ali dari santren Maskumambang di Sedayu (yang pernah terkenal sebagai pesantren paling utama sebelum masa itu), dan seterusnya. Mereka kemudian akan membentuk barisan peminat fiqh dan penganut hukum agarna yang tangguh, menjadi kiai-kiai pesantren yang sekarang ini merupakan pusat-pusat pendalaman ilmu-ilmu agama di pulau Jawa. angkatan pemuda Bisri sebagai dikatakan Kiai Syukri Ghazali almarhum, adalah generasi paling baik dari mereka yang dididik hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari di pesantren Tebuireng selama hampir setengah abad lamanya. Angkatan yang menjadi kiai-kiai terkemuka hingga saat ini, atau yang mewariskan pesantren-pesantren besar kepa para pengganti sebelum kepulangan mereka kerahmatullah. Selama enam tahun di pesantren Tebuireng itu, pemuda Bisri memperoleh ijazah (perkenan lisan) dari gurunya untuk mengajarkan kitab-kitab agama yang terkenal dalam literatur lama, dari teks fiqh -Zubad (yang kemudian akan menjadi kegemarannya) hingga ke corpus magnus hadits yang menjadi spesialisasi Kiai Hasyim Asy'ari, bukhari dan Muslim. Pada waktu itu sudah terlihat jelas corak penguasaan ilmu-ilmu agama yang diikuti pemuda Bisri dan akan membuatnya sangat terkenal di kemudian hari pendalaman pokok-pokok pengambilan hukum agama dalam fiqh, tanpa terlalu banyak variasi tambahan pengetahuan baru yang bermacam-macam. Literatur keagamaan yang dikuasainya terasa terlalu bersifat sesisi, lebih ditekankan pada literatur fiqh lama. Tetapi penguasaan itu memiliki intensitas luar biasa, sehingga secara keseluruhan membentuk sebuah kebulatan yang matang dalam kepribadian dan pandangan hidupnya. Ketundukannya pada keputusan hukum agama yang diambil berabad-abad yang 1ampau, mungkin terasa agak aneh terdengar di masa modern ini. Tetapi memiliki validitasnya sendiri, selama dilakukan dengan keterbukaan sikap dan keteguhan hati seorang yang mampu menghadapkannya pada kenyataan-kenyataan hidup secara baik. Jarang diperoleh keterangan tentang keadaan pemuda Bisri waktu ia belajar di pesantren, khususnya sewaktu belajar di pesantren Tebuireng. Banyak santri lain dikenang orang karena berbagai ulama, seperti pemuda Abdul Wahab Hasbullah, pemuda dinamis yang membuat banyak persoalan bagi gurunya. Lain halnya dengan pemuda bisri Syansuri, yang bersikap hidup lugas, memiliki jalur kegiatan yang sangat bersifat rutin dan yang cenderung membenamkan diri ke dalam kebersamaan pola hidup dengan teman-teman sebaya daripada menonjolkan kiprah sendiri. Gambaran ini sudah tentu sangat bersesuaian dengan pola hidupnya setelah ia di kemudian hari menjadi kiai di tempatnya sendiri. Setelah enam tahun lamanya berada di Tebuireng, pada tahun 1912-13 pemuda Bisri Syansuri berangkat melanjutkan pendidikan ke Mekkah, kemungkinan besar atas persuasi teman karibnya sesama santri di Tebuireng, yaitu Abdul Wahab Hasbullah. Kedua kawan yang berwatak saling bertolak belakang itu sama-sama belajar pada sejumlah ulama terkemuka di tanah suci Mekkah, seperti Syaikh Muhammad Baqir, Syaikh Muhammad Sa'id Yamani, Syaikh Ibrahim Madani dan Syaikh Jamal Maliki. Juga kepada guru-guru dari 'sang guru Kiai Hasyim Asy'ari, seperti Kiai Ahmad Khatib Padang, Syu'aib Daghistani dan Kiai Mahfuz Termas. Pola kehidupan yang tekun, penuh dengan upaya menguasai pelajaran yang diberikan guru. Dan keteguhan untuk sejauh mungkin melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan panggilan peribadatan sepanjang yang difahaminya, dapat digambarkan tentulah mewarnai keadaannya semasa di Mekkah. Berbeda dengan teman karibnya, Abdul Wahab Hasbullah, yang penuh gerak dan kegiatan 'sampingan' di luar pola belajar seperti itu. Dalam tahun 1914, adik Abdul Wahab Hasbullah yang bernama Nur Khadijah menunaikan ibadah haji bersama ibunya. Tidak lama setelah kedatangan mereka di Mekkah, dimulailah upaya Abdul Wahab Hasbullah untuk menjodohkan adik yang paling disayanginya itu dengan teman karib berasal dari Tayu itu. Tanpa banyak persoalan maksud itu tercapai dengan baik, dan pada tahun yang sama kedua suami isteri baru itu kembali ke tanah air, dengan meninggalkan ipar bernama Abdul Wahab Hasbullah untuk melanjutkan pelajaran di Mekkah. Di antara hal-hal menarik yang terjadi di Mekkah selama Bisri Syansuri berada di sana untuk dua-tiga tahun itu, walaupun tidak langsung melibatkan dirinya, adalah pembentukan sebuah cabang Syarikat Islam di tanah suci itu oleh Abdul Wahab Hasbullah, bersama-sama dengan Ab¬bas dari Jember, Raden Asnawi dari Kudus dan Dahlan dari Kertosono. Terlepas dari motif yang melandasi berdirinya Syarikat Islam cabang Mekkah itu, yang jelas ia merupakan latar belakang yang memberikan bekasnya sendiri pada diri Bisri Syansuri: dirasakan perlunya mengorganisir diri dalam melakukan perjuangan keagamaan, di luar 'kumpulan' masing-masiiig di pesantren sendiri. Memang benar Bisri Syansuri tidak melibatkan diri dalam kegiatan rintisan berorganisasi di kalangan orang pesantren itu, karena (menurut ucapannya sendiri di kemudian hari) 'menunggu perkenan dari Kiai (Hasyim Asy'ari)' Ternyata, sebelum perkenan itu tiba, Bisri Syansuri sendiri harus kembali ke tanah air. Selain membawa istri pulang, juga karena datangnya Perang Dunia I membuat ia harus meninggalkan Mekkah dalam tahun 1914, lebih cepat dari perkiraannya semula.

E. Babak baru di Denanyar
Kepulangan ke tanah air itu membawa Bisri Syansuri kepada pilihan untuk kembali ke desa asalnya di Tayu, ataukah menetap di tempat kelahiran istrinya. Pilihan itu terjadi tentunya dalam kerangka permintaan keluarga pihak istrinya. itu, yang bertempat tinggal di d¬sa Tambakberas, Jombang. Sedangkan permintaan itu sendiri mempunyai latar belakang kuatnya tradisi mengambil menantu orang pandai di kalangan keluarga pengasuh pesantren di pedalaman. Sudah tentu untuk memperkuat posisi kultural mereka dalam pergulatan melawan perluasan budaya setempat yang nonmuslim. Pilihan Bisri untuk menetap di Jombang, kalau dilihat dari latar belakang ini, adalah bagian dari proses besar memperkuat [reinforcement] pesantren di pedalaman Jawa terhadap meluasnya budaya non muslim sebagaimana mereka tanggapi waktu itu. Proses yang sampai saat ini pun belum selesai, seperti terbukti dengan banyaknya calon 'kiai pesisir' yang menjadi menantu 'kiai pedalaman' di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Tambakberas, Bisri Syansuri tinggal dua tahun, membantu mertuanya di bidang pendidikan dan pertanian. Periode tersebut merupakan masa terakhir persiapannya untuk menjadi kiai yang berdiri sendiri, periode pengamatan seksama atas kemampuannya membuka pesantren atas tenaga sendiri dan mengembangkannya tanpa bersandar kepada orang lain. Di bidang pertanian, diamati secara seksama kemampuannya mengelola sumber penghasilan sendiri untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga. Di bidang pendidikan, pengamatan atas kemampuannya untuk memberikan pengorbanan yang harus diberikan untuk mensukseskan sebuah 'alat perjuangan' seperti pesantren. Ternyata ia dinilai (secara tidak terbuka, tentunya) oleh mertuanya sebagai memiliki kemampuan cukup di kedua bidang itu. Karenanya, setelah dua tahun di Tambakberas, ia diberi sebidang tanah di desa lain yang berdekatan, untuk kehidupannya sendiri dan untuk mendirikan sebuah pesantren. Dengan demikian lahirlah sebuah pesantren baru, di desa Denanyar, 1,5 kilometer dari kota Jombang arah barat. Sebuah pesantren yang bermula dari kedatangan sepasang suami istri yang mendirikan, rumah mereka, kemudian sebuah surau untuk memimpin peribadatan di tempat baru itu, yang tidak lama setelah itu berfungsi sebagai tempat menerima kedatangan santri yang datang dari tempat lain untuk belajar kepada pendiri surau itu. Terbentuklah sebuah pesantren dengan kehadiran satu dua orang santri, dan dengan munculnya santri lahirlah pula seorang kiai di tengah-tengah masyarakat. Pola klasik yang tetap relevan dengan keadaan masyarakat di masa itu, dan di banyak tempat juga masih sesuai dengan kebutuhan masa di alam modern ini. Desa Denanyar adalah lokasi paling rawan dari setiap kegiatan 'tidak baik' yang ada di Jombang waktu itu. Letaknya di pinggiran kota, dekat sebuah pabrik gula dan di tepi jalan negara yang menghubung-kan Surabaya dan Madiun, memberikan warna tersendiri kepada desa tersebut: kekerasan, terkikisnya nilai-nilai moral yang luhur dan kuatnya peranan modal pada tingkah laku masyarakat. Bromocorah ber-simaharaja lela, dengan minimal pembunuhan sekali setiap harinya. Perampokan atas pejalan yang menempuh perjalanan jauh melalui desa itu merupakan kejadian sehari-hari. Dan besarnya jumlah wanita tuna susila yang dilokalisir oleh keadaan di tempat itu, kesemuanya merupakan gambaran pola umum kehidupan di desa tersebut. Medan yang sulit digunakan bagi tujuan pengembangan ajaran agama, tetapi yang juga merupakan tantangan menarik bagi pribadi-pribadi luar biasa. Dimulai dengan kiprah perorangan untuk memberikan contoh bagaimana agama dapat membawa kepada kesejahteraan hidup bila dilaksanakan ajaran-ajarannya dengan tuntas. Segefa upaya kiai baru di desa Delianyar itu merupakan permulaan dari sebuah usaha besar, yang belum selesai gelombang naik turun perkembangannya hingga saat ini. Kiai Bisri memulai kiprahnya dalam kehidupan dengan kerja di tingkat lokal pada awal mula kegiatan kemasyarakatan yang dilakukannya. Pertama-tama dengan mengatur kehidupan pertanian-nya sendiri, untuk menyangga pelaksanaan kegiatan kemasyarakatan tersebut. Kemudian dimulainya upaya mengajar anak-anak para tetangga sekitarnya, sudah tentu dengan tentangan hebat dari mereka yang tidak menyetujui usahanya. Pemerintahan desa Denanyar, kalaupun tidak menentang usahanya itu, paling tidak telah menunjuk-kan sikap tidak memberikan perhatian. Hal itu dapat dimengerti, karena para lurah dan prabotnya di daerah Denanyar dan sekitarnya terkenal sebagai tokoh-tokoh yang justeru membangun kekuasaan mereka karena keberanian yang mereka tunjukkan dalam pertarungan-pertarungan fisik. Kekerasan adalah bagian dari latar belakang kehidupan mereka, dan acara hiburan yang tidak mempedulikan nilai-nilai susila dan keagamaan adalah bagian dari budaya kekerasan yang mereka anut itu, seperti tayuban. Menarik sekali untuk dikaji bagaimana Kiai Bisri menghadapi kesemua tentangan itu dengan pendekatan yang sangat lentur dalam sikap tetapi tegar dalam pendirian. Santunan yang ditunjukkannya kepada mereka yang lemah, bukannya dalam bentuk pemberian berlebih-lebihan dan sejenisnya, melainkan dengan memperlakukan semua orang yang berurusan dengan dirinya sesuai dengan hak-hak dan kewajiban masing-masing, lambat laun lalu mengubah pandangan orang terhadap dirinya, terutama di kalangan elite desa itu sendiri. la bukanlah orang yang sekonyong-konyong datang dengan seruan untuk menjungkir-balikkan semua nilai kehidupan yang dianut secara umum, melainkan seorang warga masyarakat yang tidak memisahkan diri dari jalur umum kehidupan. Kalaupun ada perbedaan moralitas dan nilai yang dianutnya dari apa yang terjadi di sekelilingnya, itu dila-kukannya dengan tidak menghadapkan moralitas dan nilainya itu secara frontal, melainkan dengan hanya memberikan contoh bagi mereka yang mau mengikutinya. Kiai Bisri tidak 'menyerang keluar', melainkan menerima di tempat sendiri mereka yang berkeinginan mengubah diri secara berangsur-angsur. Pendekatan ini menghasilkan dua hal sekaligus mengubah pola hidup masyarakat sekelilingnya secara berangsur-angsur, dan mengundang datangnya orang luar desa itu untuk belajar ilmu-ilmu agama dari nya. Murid pertama Kiai Bisri datang baik dari anak tetangga sedesa, di samping Abi Darda' yang datang dari desa 4 kilometer arah selatan Denanyar. Keempat murid pertama itu tinggal di surau yang didirikan Kiai Bisri dalam tahun 1917, dengan jalan menyekat sebagian ruang surau itu untuk kamar tempat tinggal mereka. Sistem yang digunakan masih bersifat sorogan, yaitu bimbingan individual untuk menguasai teks-teks lama secara bertahap. Pendidikan dengan sistem lama itu dila-kukan Kiai Bisri secara tekun selama dua tahun tanpa ada tanda-tanda akan dilakukannya cara lain untuk mendidik para santrinya.

#

Artikel Terbaru


event-img

follow

26/04/2019

yang mauu tauinfo pondok kami ,follow ig kami @pondok_denanyar ,...

26

Feb. 21

Pendaftaran Santri Asrama Induk Putra

Silahkan mendaftar pada link yang tertera dibawah...


20

Feb. 21

Pendaftaran Santri Asrama Induk Putri

Silahkan mendaftar pada link yang tertera dibawah...


chart_icon

3 Guru

chart_icon

2 Santri

chart_icon

2 Download

chart_icon

2 Pendaftaran